Langsung ke konten utama

Masalah Perekonomian Awal Kemerdekaan

 

Oeang Republik Indonesia (ORI)(Kemenkeu)

Menurut Nansy Rahman dalam Sejarah Indonesia (2020: 12-13), ada tiga permasalahan ekonomi yang terjadi di Indonesia pada awal kemerdekaan, yaitu:

Pertama, terjadinya Inflasi yang tinggi. Inflasi yang terjadi saat itu disebabkan oleh: Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak terkendali (pada bulan Agustus 1945 mencapai 1,6 miliar yang beredar di Jawa, sedangkan yang beredar di masyarakat mencapai 4 miliar). Beredarnya mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank yang berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yang jumlahnya mencapai 2,3 miliar. Sementara dairi sisi Republik Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri sehingga pemerintah tidak dapat menyatakan bahwa mata uang pendudukan Jepang tidak berlaku.

Kedua, blokade Ekonomi dari Belanda. Blokade ekonomi dilakukan Belanda sejak November 1945, hal ini menyebabkan: Barang-barang ekspor milik Indonesia terlambat terkirim . Barang-barang dagangan milik Indonesia tidak dapat di ekspor bahkan banyak yang "dihancurkan". Indonesia juga kekurangan barang-barang impor yang sangat dibutuhkan. Semua faktor ini  menyebabkan inflasi semakin tak terkendali sehingga rakyat gelisah.

Ketiga, kekosongan Kas Negara. Kekosongan kas negara diakibatkan, karena pajak dan bea masuk lainnya belum ada, sementara pengeluaran negara semakin bertambah. Penghasilan pemerintah sepenuhnya bergantung pada produksi pertanian. Bermodalkan dukungan dari bidang pertanian inilah pemerintah Indonesia masih bertahan dalam keadaan ekonomi yang sangat buruk.

R. Z Leirissa, dkk, dalam Sejarah Perekonomian Indonesia (2012: 85), menyebutkan bahwa proses pemulihan ekonomi yang berjalan sangat lamban. Namun, pemerintah terus berupaya melakukan penanganan. Ada beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah perekonomian di Indonesia, yaitu:

  1. Melakukan diplomasi beras ke India
  2. Melakukan hubungan dagang dengan luar negeri
  3. Melaksanakan Konfrensi Ekonomi. Melakukan pinjaman nasional
  4. Membentuk Badan Perancang Ekonomi.

KangGoeroe


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerakan Sastra dalam Tumbuh Kembang Semangat Persatuan

Chairil Anwar (Ilustrasi: Ivon/detikcom) Persatuan dan kesatuan yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia saat ini tidak terlepas dari perjuangan panjang para pendahulu. Perlu menjadi catatan bahwa ada beberapa gerakan yang menjiwai tumbuh dan berkembangnya nilai dan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Beberapa gerakan tersebut antara lain sebagai berikut: gerakan politik gerakan pendidikan gerakan sastra Salah satu tokoh sastrawan Indonesia yang ambil bagian dalam gerakan sastra adalah Chairil Anwar. Hal ini terbukti dengan salah satu puisinya yang berjudul "Diponegoro". Diponegoro Chairil Anwar Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali Pedang di kanan, keris di kiri Berselubung semangat yang tak bisa mati Maju Ini barisan tak bergenderang berpalu Kepercayaan tanda menyerbu Sekali berani Sudah itu mati. Maju Bagimu Negeri Menyediakan api...

Boedi Oetomo

Ilustrasi Lambang Boedi Oetomo didirikan. tirto.id/Nauval Perjuangan yang bersifat kedaerahan berlangsung selama kurang lebih tiga setengah abad. Perjuangan yang memakan waktu dan timbul tenggelam itu pada akhirnya menyisakan kerugian yang tidak ternilai ditambah beban hutang yang ditanggungkan kepada bangsa Indonesia setelah merdeka. Banyak benda-benda berharga milik kerajaan-kerajaan lokal yang kemudian dibawa pulang ke negaranya oleh bangsa yang pernah menjajah Indonesia. Kerugian akibat perjuangan yang terkotak-kotak terus terjadi hingga muncul kritik oleh tokoh-tokoh agama dan politik Belanda terhadap pemerintah kerajaan Belanda terkait kondisi Indonesia (pada saat itu Hindia Belanda) yang dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi Belanda tanpa ada upaya untuk memakmurkan Indonesia sebagai negara jajahan. Kritik yang muncul disertai tuntutan untuk melakukan balas budi kepada Indonesia yang selama itu menopang kehidupan ekonomi Belanda kemudian direspon positif oleh pihak kerjaan Bel...