Langsung ke konten utama

Gerakan Sastra dalam Tumbuh Kembang Semangat Persatuan

Chairil Anwar (Ilustrasi: Ivon/detikcom)

Persatuan dan kesatuan yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia saat ini tidak terlepas dari perjuangan panjang para pendahulu. Perlu menjadi catatan bahwa ada beberapa gerakan yang menjiwai tumbuh dan berkembangnya nilai dan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Beberapa gerakan tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. gerakan politik
  2. gerakan pendidikan
  3. gerakan sastra
Salah satu tokoh sastrawan Indonesia yang ambil bagian dalam gerakan sastra adalah Chairil Anwar. Hal ini terbukti dengan salah satu puisinya yang berjudul "Diponegoro".

Diponegoro
Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselubung semangat yang tak bisa mati

Maju
Ini barisan tak bergenderang berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu
Sekali berani
Sudah itu mati.

Maju
Bagimu Negeri
Menyediakan api
Punah di atas menghamba
Binasa di atas tiada

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

Krawang-Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi


KangGoeroe

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masalah Perekonomian Awal Kemerdekaan

  Oeang Republik Indonesia (ORI)(Kemenkeu) Menurut Nansy Rahman dalam Sejarah Indonesia (2020: 12-13), ada tiga permasalahan ekonomi yang terjadi di Indonesia pada awal kemerdekaan, yaitu: Pertama, terjadinya Inflasi yang tinggi. Inflasi yang terjadi saat itu disebabkan oleh: Beredarnya mata uang Jepang di masyarakat dalam jumlah yang tak terkendali (pada bulan Agustus 1945 mencapai 1,6 miliar yang beredar di Jawa, sedangkan yang beredar di masyarakat mencapai 4 miliar). Beredarnya mata uang cadangan yang dikeluarkan oleh pasukan Sekutu dari bank-bank yang berhasil dikuasainya untuk biaya operasi dan gaji pegawai yang jumlahnya mencapai 2,3 miliar. Sementara dairi sisi Republik Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri sehingga pemerintah tidak dapat menyatakan bahwa mata uang pendudukan Jepang tidak berlaku. Kedua, blokade Ekonomi dari Belanda. Blokade ekonomi dilakukan Belanda sejak November 1945, hal ini menyebabkan: Barang-barang ekspor milik Indonesia terlambat te...

Boedi Oetomo

Ilustrasi Lambang Boedi Oetomo didirikan. tirto.id/Nauval Perjuangan yang bersifat kedaerahan berlangsung selama kurang lebih tiga setengah abad. Perjuangan yang memakan waktu dan timbul tenggelam itu pada akhirnya menyisakan kerugian yang tidak ternilai ditambah beban hutang yang ditanggungkan kepada bangsa Indonesia setelah merdeka. Banyak benda-benda berharga milik kerajaan-kerajaan lokal yang kemudian dibawa pulang ke negaranya oleh bangsa yang pernah menjajah Indonesia. Kerugian akibat perjuangan yang terkotak-kotak terus terjadi hingga muncul kritik oleh tokoh-tokoh agama dan politik Belanda terhadap pemerintah kerajaan Belanda terkait kondisi Indonesia (pada saat itu Hindia Belanda) yang dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi Belanda tanpa ada upaya untuk memakmurkan Indonesia sebagai negara jajahan. Kritik yang muncul disertai tuntutan untuk melakukan balas budi kepada Indonesia yang selama itu menopang kehidupan ekonomi Belanda kemudian direspon positif oleh pihak kerjaan Bel...