Perjuangan yang bersifat kedaerahan berlangsung selama kurang lebih tiga setengah abad. Perjuangan yang memakan waktu dan timbul tenggelam itu pada akhirnya menyisakan kerugian yang tidak ternilai ditambah beban hutang yang ditanggungkan kepada bangsa Indonesia setelah merdeka. Banyak benda-benda berharga milik kerajaan-kerajaan lokal yang kemudian dibawa pulang ke negaranya oleh bangsa yang pernah menjajah Indonesia.
Kerugian akibat perjuangan yang terkotak-kotak terus terjadi hingga muncul kritik oleh tokoh-tokoh agama dan politik Belanda terhadap pemerintah kerajaan Belanda terkait kondisi Indonesia (pada saat itu Hindia Belanda) yang dieksploitasi untuk kepentingan ekonomi Belanda tanpa ada upaya untuk memakmurkan Indonesia sebagai negara jajahan.
Kritik yang muncul disertai tuntutan untuk melakukan balas budi kepada Indonesia yang selama itu menopang kehidupan ekonomi Belanda kemudian direspon positif oleh pihak kerjaan Belanda yang melahirkan politik etis (etische politic). Politik etis dilaksanakan dalam tiga program yaitu imigrasi (perpindahan penduduk dari wilayah padat penduduk ke wilayah yang masih jarang penduduknya), irigasi (pengairan untuk memastikan ketersediaan air sesuai kebutuhan pertanian di lahan-lahan milik masyarakat), edukasi (pendirian sekolah-sekolah untuk orang-orang Hindia-belanda atau pribumi).
Salah satu program dari politik balas budi, yaitu edukasi menghasilkan golongan terpelajar yang membentuk sebuah organisasi dengan tujuan menjamin kehidupan sebagai bangsa yang terhormat serta bergerak dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Organisasi ini diberi nama Boedi Oetomo.
Boedi Oetomo berdampak baik pada perkembangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kehadirannya menandai era yang dikenal dengan istilah kebangkitan nasional. Sepuluh tahun setelah berdirinya Boedi Oetomo, perwakilan pemuda dari berbagai daerah berkumpul di Jakarta untuk mengikrarkan Sumpah Pemuda. Tujuh belas tahun sejak peristiwa Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.
Kehadiran Boedi Oetomo menandai detik-detik terakhir perjuangan kemerdekaan Indonesia yang telah diperjuangkan selama kurang lebih tiga abad lamanya. Tiga puluh tujuh tahun setelah kehadirannya Indonesia berkesempatan untuk memproklamasikan kemerdekaan.
KangGoeroe

Komentar
Posting Komentar